Jumat, 17 Februari 2017

Sruktur Teks Novel "Aku Melihatmu"



NO
STRUKTUR TEKS
KUTIPAN KALIMAT DALAM TEKS
BUKTI HALAMAN
1
Abstraksi
Kapan? Hanya pertanyaan itu yang sering hadir di benak salju. Pertanyaan yang sering menghantui harinya yang penih kegelapan. Hari yang salju harao akan segera usai, dan ia bisa segera melihat mataharu terbit yang selalu menemani saat membuka mata, serta melihat sang matahari terbenam di Pulau Merah tempat ia tumbuh dan besar, melihat perempuan yang telah merawat dan membesarkan dirinya hingga sekarang, melihat sahabat baiknya, melihat semua yang telah Dzat Yang Mahaindah ciptakan dengan semua lukisan kesempurnaan, lukisan yang hanya tercipta saat sebuah kalimat terucap.
Kun fayakun! "ya Allah...!  Bukalah kembali cahaya hidup ini...  pertemu-  kanlah hamba dengan malaikat hamba...."  Begitulah!  Setiap pagi datang,  salju hanya mampu terdiam di pesisir,  merasakan deru ombak yang tentu akan sangat indah andai ia melihatnya,  tentu ia akan mengulas sebuah senyum untuknya,  menyapanya yang selalu setia menemani dengan nadanya saat bercanda dengan karang yang kokoh,  namun sayang,  sejak kecil salju sudah tak mampu melihat,  sejak kecil hanya kegelapan yang menemani harinya. Banyak yang mengatakan salju adalah gadis cantik dengan kulit yang seputih salju,  memuji semua kelembutannya,  tapi apalah arti pujian itu,  jika jauh di dalam lubuk hati,  salju berduka,  menanti sebuah cahaya di hari esok.  Sahabat-sahabatnya memanggilnya Salju karena kulit putihnya. Sebuah panggilan yang menyenangkan.  Banyak yang mengatakan kecantikan Salju bagaikan seorang Putri Salju,  kulitnya putih selembut kapas,  para sempurna dan elok.  Ah!  Tapi apalah arti pujian dari sahabat dan juga tetangga sekitar.  Salju tak pernah melihat bagaimana Allah menciptakan parasnya,  Allah tak pernah memberitahu bagaimana ia lahir,  Kapan ia pertama kali membuka mata?  Serta dari rahim siapa ia terlahir?  salju tak pernah tahu semua itu,  namun masih bersyukur,  Allah mempertemukannya dengan perempuan muda yang membesarkan dirinya dengan segenap cinta,  mengasuh dan menyayangi bagaikan anak sendiri.  Salju bahagia,  sungguh-sungguh bahagia,  walau terkadang rindu untuk mengetahui siapa jati dirinya.  Saat sendiri Salju kerap kali resah"Ya Allah...,  jadikanlah catatan yang hamba ukir dalam kegelapan ini sebagai pintu terindah yang akan membuka tabir yang selama ini tersingkap rapi.  Engkaulah Yang Mahatahu serta Maha Melihat.  Pertemukanlah hamba dengan malaikat-  malaikat-Mu,  malaikat yang akan memberi cahaya terindah untuk hamba.... Amin....".











12 - 14
2
Orientasi
Salju!"  Sebuah suara menyeling pelan dari balik semak yang tumbuh dari arah utara pantai,  semak yang membuat suasana di pantai itu menjadi indah berpadu dengan berbagaitanaman hias yang memang sengaja ditanam,  untuk menjaga agar kondisi pantai tetap dingin dan nyaman,  tidak panas oleh matahari yang terkadang sering kali tak terkendali.  Gadis yang tengah duduk tenang di atas batu berteman tongkat yang selalu menjadi sahabat baiknya itu menoleh,  mencoba mencari asal suara walau ia tak akan pernah mampu melihat siapa pemilik suara itu.  Sebuah suara yang sangat ia kenal,  sebuah suara yang selalu menemani hari sepinya. "Iya,"  gadis yang sejak kecil mendapat julukan Salju itu menjawab lirih.  Suaranya yang pelan nyaris habis berbaur dengan deru angin pantai yang meraung-raung tanpa henti,  bagai segerombolan anak singa yang tengah berlarian,  saling berkejar-kejaran.  Bertubrukan,  dan semua bunyi itu.  menghilang setelah menghantam karang,  redam.  
Vano,  pemuda itu,  hanya diam dan terus diam seraya memandang debur ombak di pagi buta.  La benar-benar tak pernah mampu mengungkap sesuatu yang selalu mengusik siang dan malamnya.  Ia tak pernah mampu melukiskan sebuah keindahan yang justru melukainya saat itu.  Dan ketidakkuasaan itulah yang akhirnya membuat ia diam,  kalut dalam sejuta harapan cinta,  menunggu jawaban di hari esok.  Jawaban yang semua masih semu,  yang hanya menyisakan sebuah bingkai duka untuk ia letakkan dalam hidupnya.  Apa aku bisa menjadi malaikat untukmu?  Malaikat-  malaikat yang selalu engkau ceritakan saat kecil dulu.  Malaikat yang memberikan segalanya untukmu Bahkan hidup mereka?  Tapi aku sendiri tak tahu,  apakah aku mampu?  Apakah cinta ini bisa mengantarku menjadi malaikat untukmu?  Salju...  aku mencintaimu,  desah Vano di kedalaman jiwanya,  membiarkan semua larut bersama deru angin yang semakin cepat mengiringi perjalanan waktu menuju tahta matahari yang sempurna.
"Vano...  kenapa kamu hanya gan untuk mengusir sedih dan laraku di pagi ini?"  ujar salju diam.  Menahan sesuatu yang tertahan di pelupuk matanya.  Berat,  ia tak mau lagi menangis atas apa yang telah menjadi pilihan hidupnya.  Pilihan yang hadir setelah ia mendengar cerita tentang kepindahan perempuan yang telah membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang,  perempuan yang telah memberinya sebuah nama nan indah,  Keyla Rahma.  Nama yang mencerminkan kesempurnaan sifat dan wajah anggunnya,  hingga sebuah nama baru hadir beriring nama indah itu,  Salju.  Nama itulah yang kini menjadi simbol kesucian jiwa Rahma,  sebuah nama yang tidak akan bisa dimiliki gadis desa mana pun,  termasuk Elysa,  sahabat baik Salju. "Maaf,  hanya saja...  aku bingung!  Aku bingung apa yang harus aku katakan saat ini.  Ini baru pertama kalinya aku melihat engkau bersedih.  Biasanya engkau selalu ceria.Engkau selalu menampakkan senyummu itu tapi di pagi ini semua itu menghilang.  Kenapa engkau justru bersedih?  Kenapa?Apakah ada cerita yang membuat engkau bersedih?  Cobalah engkau berbagi dengan diriku ini.  Sahabatmu,"  balas Vano pelan seraya menaikkan risleting jaket yang kembali ia kenakan karena salju tadi menolak niat baiknya,  menariknya sampai ke leher,  mencoba mengusir dingin yang membuat tubuhnya sedikit menggigil.
Pandangannya masih saja sayu,  ia tak pernah menyangka,  gadis anggun yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil itu kini berduka,  duka yang membuatnya takut,  takut andai ia tidak akan lagi melihat senyuman dan bercanda dengannya.  la pasti akan merindukan semua kisah dengan salju,  sahabat terbaik yang sangat ia cintai,  cinta yang ia simpan rapat,  hanya ia dan Allah yang tahu"Van,  aku tidak bisa menerima semua ini.  Hatiku berat untuk meninggalkan desa ini Walau di sini bukan tempatku lahir dari tempat iniaku tumbuh dan belajar banyak hal.  Dari tempat ini aku merasakan dunia Dunia yang seakan mampu kupandangi dalam kegelapan,  yang selalu menyelubungiku setiap waktu.  Aku takut,  saat aku benar-benar pergi ke tempat lain,  aku tak lagi bisa menemukan dunia yang indah seperti pagi ini.  Dunia yang bisa membuat aku tertawa,  bahagia,  balas Salju.  Pikiran Salju kacau teringat dialognya dengan perempuan yang sangat ia sayangi,  perempuan yang telah memberikan segenap cinta untuk dirinya yang terlahir di dunia tanpa pernah mengenal kasih sayang dari kedua orang tuanya.  Dialah bidadari suci itu,  Nurlita.




15






20 - 22





3
Komplikasi
Usai melaksanakan shalat Ashar bersama para jamaah,  Zahiy duduk di teras Masjid Darussholah,  membubarkan la munannya sejauh mungkin,  mencoba kembali merenungkan apa yang baru saja ia lakukan sesaat itu.  Shalat,  ya melaksanakan shalat,  sesuatu yang Zahiy sebenarnya ia sendiri tidak tahu bagaimana cara melaku-  kannya,  bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana gerakan demi gerakan itu ada,  apa nama dari setiap gerakan tersebut?  Dan apa saja yang dibaca di dalam shalat?  Namun Zahiy begitu menikmatinya.  Ia mampu merasakan sesuatu yang berbeda saat mengikuti semua gerakan imam shalat,  saat mendengarkan bacaan bacaan yang dilantunkan sang imam dengan merdu.  Ia menikmatinya dan kembali,  ada sesuatu yang tepercik di dalam jiwanya,  rindu. "Assalamu alaikum,"  seorang pemuda yang duduk ber-  sebelahan dengan Zahiy,  mengucapkan salam lirih.  Keha.  dirannya tak disadari Zahiy.  Zahiy menoleh sejenak.  Ia membalas salam itu,  wa'alaikumussalam "Alhamdulillah.  Bagaimana kabar,  Akhi?"  sapa pemuda itu ramah.  Wajahnya tampak cerah dan tenang,  sesuai dengan sarung biru,  baju koko putih cerah dan corak batik biru di sekitar leher,  dipadu kopiah haji yang sangat serasi dengan ketampanan pemuda itu Zahiy tersenyum menatap pemuda tampan di sampingnya.  Tsehat,  Tadz,  balas Zahiy memanggil pemuda itu dengan embel-embel tad atau kependekan dari ustadz.  zahiy yakin,  pemuda yang kini juga tengah menatapnya tajam itu adalah seorang ustadz,  pengurus Masjid Darussholah besar nan agung ini. -Maaf,  Akhi,  tidak layak jika memanggil saya ustadz kenalkan nama saya Roland Lengkapnya Muhammad Roland al-Muhtar,  balas Roland.  zahiy tersenyum,  lalu mengulurkan tangannya. "Nama saya Zahiy,  Mas." Nama panjangnya?  tanya Roland.  Zahiy kembali mengulas senyum. "Saya tidak tahu. ya zahiy saja sudah cukup. "Lho,  gimana to Akhi ini panjang lupal ujar ama Sendiri lupa!" ujar Roland bercanda.
"Bagaimana?  Insya Allah,  apa pun yang Akhi perlukan selama Akhi menjadi pengurus masjid,  Insya Allah akan kami penuhi,"  ujar Roland kembali memberi tawaran,  menatap Zahiy lekat yang masih terlarut dalam keraguan. "Tapi saya tidak bisa apa-apa.  Bahkan saya shalat saja belum benar.  Saya tidak tahu apa saja yang dibaca saat shalat.  Tentang pekerjaan-pekerjaan lain yang dilakukan para mereka yang kerap ke masjid ini,  tentang semuanya,  saya masih sangat asing dengan apa yang baru saja saya alami sore ini Lalu apa mungkin saya menjadi pengurus Masjid Darussholah yang agung ini?"  balas Zahiy,  masih ragu.  Sebuah suara meneriakkan siapa dirinya.  Ia hanya pemuda kotor hina yang terbiasa hidup di jalanan,  berkumpul bersama debu-debu kotor yang menghantamnya tanpa permisi setiap waktu.  Ia manusia yanglupa akan diri mereka sendiri,  termasuk melupakan Tuhan.  Tak pantas jika ia menjadi pengurus Masjid Darussholah nan indah ini,  masih banyak orang lain yang lebih pantas dari dirinya.  Zahiy masih larut Roland dalam pikirannya. "Ketahuilah,  Saudaraku,  tidak ada yang tidak mungkin di dalam kehidupan kita sebagai seorang manusia,  sebagai seorang cucu Adam yang mulia.  Allah tidak akan pernah saat mengubah nasib suatu kaum jika mereka tidak mengubahnya tkua sendiri.  Jadi kita harus berubah dan kita harus yakin bahwa Allah akan memberi hidup kita yang lebih indah.  Akhi yakin akan adanya kekuasaan Allah yang tiada pernah terbayang kan,  kan?"
Iya."  Zahiy mengangguk yakin,  lalu merunduk,  perih dalam hatinya kembali hadir saat ia harus teringat telah lama melupakan Allah. "Jika keyakinan itu masih ada,  apa salahnya jika Akhi berusaha untuk berubah.  Ayolah,  Akhi.  Jangan ragu.  Yakin yakin!  Bahwa Akhi bisa menjadi lebih baik dari Akhi yang sekarang.  Akhi harus mampu muncul sebagai sosok baru yang lebih baik dari hari ini.  Saya yakin Akhi mampu mela.  kukannya,"  Roland terus memberi keyakinan kepada Zah"Tidak tahu.  Mas.  Mungkin jika keyakinan itu muncul saya akan kembali ke sini lagi.  Namun untuk saat ini,  saya belum bisa memberikan jawaban atas apa yang saya rasakan dalam hati saya.  Semua masih berselimutkan keraguan yang belum juga menghilang walau saya telah mencoba meng-  hapusnya.  Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan saat ini.  Doakan saja Mas,  saya bisa lebih baik dari hari ini,  balas Zahiy.  Baru pertama kali ini ia meminta didoakan kepada orang yang baru ia kenal. "Baiklah.  Besok pagi,  usai shalat Subuh saya harap Akhi sudah bisa memberikan jawaban buat saya.  Saya akan me-  nunggu Akhi dan saya harap Akhi akan benar-benar datang untuk menjadi seseorang yang baru." "Iya balas lahiy Wajahnya tampak kosong,  kebingungan belum hilang sepenuhnya walau mungkin pikirannya sudah sedikit tenang dari kecamuk resah yang sejak tadi hadir. "Ya sudah,  Mas,  saya pergi dulu Insya Allah besok subuh saya akan datang menemui Mas,"  lanjut Zahiy berpamitan.  Ia menyalami Roland erat bagai seorang sahabat yang enggan terlepas dalam perpisahan,  menatapnya sejenak dalam ruang kebahagiaan mengulas sebuah senyum simpul penuh arti,  lalu mengambil pakaian kumal yang tadi ia masukkan di dalam keresek hitam,  membawanya pelan beriring resah yang mulai menjauh. "Allah..."  Zahiy mendesah.  Berat rasanya kakinya me langkah meninggalkan tempat agung nan indah.  Ia merasa telah menemukan hal baru,  dan akhirnya langkahnya terhenti tepat di depan gerbang masjid Menatap jauh ke luar gerbang.  jalanan masih tampak ramai dengan lalu lalang jamaah yang sudah pulang.  Wajah wajah cerah itu takluput dari pandangan zahiy membuatnya iri dengan setiap guratan kebahagiaan yang terpancar dari mereka.  Brukk!  Seseorang menabrak zahiy dari arah belakang,  mem-  bubarkan lamunan.  Zahiy menoleh. "Maaf,  Mbak,  maaf ujar Zahiy seraya mundur selangkah.  Menjaga jarak dengan perempuan yang baru saja menabraknya dari arah belakang.  Ia menatap perempuan yang masih tertunduk itu.  Perempuan itu pun hanya diam sejenak lalu berjongkok cepat,  mengambil sesuatu yang terjatuh saat menabrak sosok Zahiy yang mematung di depan gerbang masjid.  zahiy yang tersadar dengan siapa kini ia berhadapan langsung mengambilkan tongkat yang terjatuh dari tangan perempuan itu.  Terlempar lumayan jauh dari posisi perempuan yang menabraknya. "Ini,  Mbak,"  ujar Zahiy seraya mengulurkan tongkat kayu yang baru saja diambilnya,  usai mengelap debu yang menem-  pel di tongkat dengan baju kumal yang ia ambil dari keresek"Maaf,  Mas,  saya tidak tahu.  Maafkan saya,"  balas perem-  puan itu seraya mengarahkan wajahnya ke arah Zahiy.  Walau sadar,  ia tak akan mampu melihat sosok pemuda di depannya.  Zahiy diam.  Matanya beradu dengan mata perempuan buta yang ternyata memiliki wajah teduh dan anggun,wajah yang begitu sempurna bagaikan seorang putri tercantik dari para bidadari surga.  Ia berbalut kerudung putih nan indah yang membuat sosok gadis buta itu menjadi semakin istimewa bagi setiap mata yang menatapnya. -Mas...  Mas...  maafkan saya,  gadis anggun itu kembali meminta maaf.  Ada rasa bersalah dalam hati kecilnya.  Gadis itu terdiam sejenak,  menunggu jawaban dari pemuda yang baru saja ia tabrak.  lalu mengulas sebuah senyuman seakan tak sadar senyuman itu justru menambah zahiy larut dalam keheningan.  Zahiy yang berada di depannya malah semakin terpaku.  Ya Allah,  inikah bidadari Mu?Inikah bidadari?  Apakah ini surga Mu?  Surga dengan keindahan yang Engkaujanjikan untuk mereka yang merindu Mu?  desah Zahiy. "Eh,  Mbak,  maaf.  Tadi saya yang salah kok.  Saya yang berhenti mendadak.  Jadi maklum kalau Mbak yang nabrak saya,"  ujar Zahiy tersenyum simpul bahagia,  dengan kekaguman yang jelas masih tampak dari raut wajahnya.  Gadis anggun itu tersenyum,  lalu membenahi kerudung putih yang ia kenakan"Ya sudah,  terima kasih banyak,  Mas.  Assalamu'alaikum."  suara gadis itu membuat zahly diam.  Berkali kali ia menarik napas panjang,  seakan tak sadar gadis anggun yang ia temui telah pergi dari hadapannya,  masuk ke dalam mobil bersama seorang lelaki paruh baya,  Zahiy mendesah,  membiarkan dirinya larut dalam sesuatu yang ia sendiri tak mengerti.  Sesuatu yang menurutnya sangat aneh.  Wajah itu menghantui...  menghantui jiwanya.
"Bodooh!"  zahiy mendesah,  menyadari kebodohannya yang tidak menanyakan siapa nama gadis buta yang baru saja ia temui.  Ada sedikit sesal di dalam hatinya.  Namun,  ia yakin suatu saat nanti pasti akan kembali bertemu dengan gadis itu walau ia tahu,  gadis itu tidak akan mengenalinya.  Tapi mengenal atau tidak,  bukanlah hal terpenting bagi Zahiy.  Yang terpenting bagi Zahiy adalah kembali bertemu dengan gadis itu entah kapan,  mendapatkan seulassenyuman yang mampu menenangkan jiwanya,  tidak lebih.  Ia belum mengerti apa yang kini hadir dalam hatinya.  Hadir saat ber-  temu dalam senja terindah di sepanjang hidupnya.





77 - 87
4
Evaluasi
Mas,  tolong dipindah salurannya ya,  pintazahiy dengan nada lemah.  Rafi tersenyum.  Ada sepercik harapan dalam jiwanya setelah ia mendengar suara zahiy,suara yang tiada la dengar selama tiga hari ini,  tepatnya setelah Zahiy dirawat di rumah. -yang mana?  balas Rafi sabar seraya menggantisaluran televisi.  Memang hari ini ia yang mendapat tugas untuk menjaga Zahiy.  Roland dan Rahmat tengah ikut kegiatan pembenahan jalan di sekitar masjid.  Teruskan,  perintah Zahiy masih fokus menatap laya TV yang terus beralih.  Ada sesuatu yang muncul dalam benak zahiy Entah apa itu,  namun ia yakin,  hari ini,  di pagi ini,  ia akan segera menemukan semua jawaban.  Berhenti!  Rafi menghentikan gerakan jarinya memencet tombol.  Dan kini,  pandangan Zahiy beradu pada seorang wanita cantik yang tengah duduk bersama seorang presenter.  Keduanya asyik berbincang.  Zahiy meminta tolong untuk mengeraskan volume sampai telinga Zahiy yang mengalami gangguan bisa mendengar dengan jel"Assalamu alaikum ehm...  nama saya Faza Elysa seorang wanita anggun dalam sebuah acara di stasiun televisi itu memperkenalkan diri.  Sebuah nama yang indah.  Zahiy dan Rafi kembali melihat dengan khusyuk acara tersebut,  acara yang tampaknya akan membahas tuntas sebuah kisah perjalanan orang-orang yang memiliki keisti.  mewaan.  Dan di pagi itu,  seorang presenter memberi pembukaan dengan memperkenalkan seorang Faza Elysa yang ternyata seorang cerpenis terbaik nasional dengan sebuah cerpennya yang berjudul Salju"Bagaimana Mbak Elysa bisa mengawali penulisan cerpen berjudul'Salju'  ini,  hingga akhirnya bisa menjadi sebuah cerpen yang sangat menarik.  bahkan bisa menjadi cerpen terbaik nasional tahun ini?"  presenter cantik itu bertanya kepada si narasumber yang bernama Elysa.  Elysa tersenyum sejenak,  menarik napas pelan,  lalu dengan nada ringan menjawab seadanya,  menjawab semua yang memang ingin ia ungkap kepada publik.  Ia ingin me ngatakan ada sebuah kisah menarik yang perlu diketahui dunia kisah tentang seorang gadisnananggun dengan nama indahnya,  Salju Rafi dan zahiy masih sibuk melthat ke layar Tv tampak kedua wanita anggunyangkini masih asyik berdialog tentang cerpen "Salju" Sebelum saya membahas tentang cerpen sederhana ini,  saya ingin memperkenalkan seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya.  Seseorang yang membuat hidup ini terasa indah,  membuat perjalanan kisah dalam hidup ini terasa sempurna dengan semua kekurangannya,  dan membuat saya bisa duduk tenang di lcursi ini.  Salju...  sahabatku,  ujar Elysa seraya mengambil sesuatu dari dalam tas merah yang ia bawa.  Ini dia adalah salju.  Dia adalah Saljudimusim terindah yang pernah saya temukan sosok sahabat terbaik yang selalu hadir dengan kisah yang pantas untuk saya abadikan dalamsederhan catatan saya.  Dialah Salju, sahabat terbaik yang pernah hadir dalam kehidupan ini,"  lanjut Elysa seraya menunjukkan sebuah foto seorang gadis yang mengulas senyum manis,  wajah yang benar-benar sempurna bagai pesona seorang Ratu Cleopatra,  atau mungkin seorang bidadari Ehm...  maaf,  Mbak Elysa,  kalau boleh kami tahu,  apa hubungan gadis di foto itu dengan cerpen yang membuat nama Mbak menjadi penulis muda yang sukses saat ini?  tanya sang presenter sopan.  Elysa kembali tersenyum.  Kedua tangannya masih memegang foto.  Sementara,  Zahiy masih terpaku.  Rindu dalam jiwanya benar-benar membuatnya berkalikali menarik napas panjang,  sampai akhirnya air mata itu meleleh beriring bibir pucat yang menyebut sebuah nama.  Salju Rafi yang mendengar Zahiy menyebut nama Salju menoleh,  lalu mengajukan pertanyaan untuk Zahiy yang teng gelam dalam duka. "Apa Mas kenal dengan gadis di foto itu?"  sangat Rafi menatap Zahiy yang tiba-tiba berurai air mata.  Zahiy hanya diam,  seakan tak mendengar pertanyaan Rafi.  Kinijiwa hidup itu benar-benar telah larut dalam bahasa cintanya,  larut oleh hidup in bait demi bait yang meluncur dengan merdunya,  tenggelam iu'  oleh danau cinta yang meluap hingga tiada menyisakan celah kosong dalam hatinya,  Celah itu telah terisi oleh satu nama kini.  Salju. Zahiy memusatkan perhatiannya pada televisi.  Ia tak menggubris pertanyaan Rafi. "Sejak kecil Allah telah memberi garis tersendiri untuk takdir seorang salju.  Di balik anggun wajahnya,  seorang salu harus merasakan gelap.  Ia terlahir tanpa mampu melihat,  tanpa mampu menatap indah pelangi yang menurut semua orang sempurna dengan tujuh warnanya.  Tapi bagi saya dan penduduk desa Sumber Asri,  Salju-lah pelangi terindah yang pernah kami temukan. "Saya mengenalnya sejak kami masih kecil.  Saya tidak sendiri.  Kami bertiga menjadi seorang sahabat.  Saya,  Vano,  dan Salju.  Kami selalu berbagi dalam segala hal.  Saya dan Vano adalah mata untuk Salju melihat.  Kami berdua adalah sepasang tangan untuk Salju menggapai sesuatu.  Kami berdua adalah kaki bagi Salju untuk melangkahke mana pun yang ia inginkan.  Tapi sayang,  kami belum bisa menemukan apa yang sebenarnya Salju cari dalam hidupnya...."  Zahiy tak lagi fokus.  Salju...  dialah bidadari itu!
Mas! Sampean kenapa?"  tanya Rafi.  Pandangannya masih lurus menatap tetes bening yang mulai hke berjatuhan usai melihat sebuah acara di stasiun televisi ten tang dialog dua orang gadis,  dan salah satu gadis itu bernama Elysa,  seorang penulis cerpen berjudul"Salju".  zahiy yang ditanya hanya diam.  Memang benar,  hati itu kini bisa kembali menguntai senyum.  Sejujurnya ia memang ingin bangkit,  ia ingin segera sembuh,  hanya saja ia tidak tahu kapan.  Ia ingin mengistirahatkan jiwanya,  namun tak mampu karena di setiap embusan napas,  jiwa itu masih terus bernyanyi dengan rindu,  rindu untuk seorang gadis buta di senja,  Salju"Mas,  lebih baik Mas makan dulu.  Nanti kalau habis makan,  Mas minum obat!  Lalu Mas bisa cerita masalah Mas ke Rafi.  Insya Allah,  jika Rafi mampu,  Rafi akan membantu sebisa Rafi,"  ujar Rafi seraya kembali mengambil mangkuk buburnya,  sudah agak dingin.
zahiy kembali hening sejenak,  tidak cukup lama sampai akhirnya ia menoleh ke arah Rafi.  Keduanya menatap ko.  song dan kekosongan itu sirna sudah saat Zahiy mengulas senyuman untuk Rafi. "Terima kasih,"  ujar Rafi seraya mengarahkan mulutnya tepat menuju sesendok bubur yang baru saja Rafi arahkan kepadanya.  Dengan sabar Rafi menyuapi Zahiy. "Mas,  ini obatnya!"  Rafi kembali membukakan bungkus obat.  Sudah tiga hari Zahiy dirawat di rumah,  hanya saja ia menolak untuk meminum obat yang diberikan dokter,  bahkan terkadang Zahiy menolak untuk mengisi perutnya,  sampai akhirnya dokter pun memberi vitamin tambahan untuk Zahiy Zahiy dengan tenang menuruti apa yang diperintahkan Rafi.  Rafi tersenyum bahagia. "Mas,  kalau Mas mau cerita,  silakan.  Apa mungkin Mas mengenal gadis di acara televisi tadi?  Soalnya tadi saya lihat Mas menangis setelah Mas melihat gadis bernama Elysa tadi mengeluarkan selembar foto gadis yang sangat cantik itu.  Apa Mas mengenal gadis di foto itu?"  tanya Rafi.  Ia sangat yakin ada sesuatu yang disembunyikan Zahiy.  zahiy hanya menarik napas panjang,  lalu mengangguk pelan.  Sebenarnya ia ingin menceritakan semuanya segera di pagi ini,  tapi ia masih memilih untuk menenangkan sesuatu yang terus menderu dalam jiwanya. "Jadi Mas benar-benar mengenalnya?  Dari mana?  Sejak kapan Mas mengenalnya?  Apa mungkin semua yang terjadi dalam hidup Mas karena gadis itu?"
zahiy diam,  sampai akhirnya dengan sisa suaranya yang hampir habis ia menceritakan semuanya kepada Rafi,  sebuah cerita yang sempat ia ceritakan juga kepada Rahmat dulu,  saat keduanya masih hidup sebagai anak jalanan. "Banyak hal yang mungkin harus tersembunyi selama ini.  Tentang masa lalu,  tentang rindu.  tentang cinta dan tentang Dengan nada sedih Zahiy mulai menceritakan siapa diri.  nya di masa lalu bersama Rahmat.  Semula Rafi sempat tidak percaya kalau masa lalu Zahiy adalah seorang anak jalanan.  tapi Zahiy kembali melanjutkan ceritanya tentang pertemuan Zahiy dengan Pak Arie,  Roland,  hingga seorang gadis buta di senja.  Bahkan dengan terang-terangan Zahiy mengatakan"Aku mencintainya.  Aku benar-benar mencintainya.  Aku tak pernah tahu apa yang bisa aku lakukan.  Aku bukanlah Qais,  tapi aku rela terkubur dalam gua batu nan gelap asal aku selembarini bisa mencintainya.  Aku rela menjadi jembatan batu selama malgadsG ribuan tahun,  diterpa hujan dan badai karena mencintainya.  agar aku bisa merindunya.  Rafi hanya bisa menelan ludah haru.  Ia tidak sanggup membayangkan seberapa besar cinta Zahiy kepada sosok gadis ang buta yang Zahiy temui di senja itu. "Mas,  apa Mas mengenal gadis itu?"  Rafi kembali meng-  ajukan pertanyaan yang sama.  Ia semakin penasaran untuk mengetahui semua kisah yang dialami zahiy.
"Tidak.  Aku tidak mengenalnya.  Hanya di pertemuan senja itu semua bermula."  Zahiy kembali menceritakan pertemuan di senja itu.  Rafi hanya termenungkagum.Cinta memang aneh,  tiada yang tahu kapan dan di mana cinta itu datang,  mengapa cinta itu hadir?  Dan kepada siapa cinta itu harus tertuju? "Jadi semua bermula sejak pertemuan itu.  Lalu apa yang membuat Mas jatuh cinta kepada gadis buta itu?" "Saya tidak tahu,  balas zahiy. "Bukankah Mas bisa menemukan sosok itu kembali?" "Iya.  Tapi saya ragu.  mencarikan A"Nanti biar saya dan temen-temen yang alamat gadis itu."  Zahiy mengangguk seraya tersenyum.  Rafi pun berlalu meninggalkan Zahiy Pikirannya semrawut karena cerita Zahiy tadi.
Zahiy terus berdebat dengan argumen argumennya. "Apa yang harus aku lakukan,  ya Allah?  desah Zahiy seraya memainkan selembaran kertas dan pena yang baru saja ambil dari kotak buku,  Pena yangsudah lama labiarkan sendiri selama tubuhnya terkapar bersama rasa sakit sejak hampir seminggu lebih,  Kini dengan sisa tenaga yang dimiliki.  Zahiy mencoba menulis sesuatu.  Sesuatu yang mungkin akan segera mewakili apa yang akan ia pilih dan ia jalani. Aku tidak mau menyusahkan semuanya.  Akhi Roland Rahmat,  Rafi,  Pak Arie,  dan yang sudah mengenalku.  Maafkan aku yang terlalu lemah dalam menghadapi hidup.  Maafkan aku,"  desah zahiy kembali mengingat betapa baiknya mereka yang sudah mengenal dirinya.  Tenanglah.  Kamu harus yakin dengan apa yang akan kamu pilih.  Jika hatimusudah menentukan sebuah pilihan,  lakukanlah.  Jangan ragu dengan apa yang harus kamu lakukan.  Kamu yakini saja,  Allah pasti akan memberi jalan terbaik untuk setiap hamba-Nya yang sudah berusaha,  sebuah bisikan kecil dalam hati zahiy"Tapi aku tidak berusaha.  Aku berputus asa.  Aku menolak untuk diperiksa lanjut karena aku akui,  aku sendiri takut untuk mengetahuipenyakit apa yang kini ada di kepalaku.  Aku takut!  Namun ketakutan itu akan lebih terasa menyakitkan jika menyusahkan semua sahabat-sahabatku.  Aku tidak mau!  sanggah Zahiy dengan napasnya yang memburu.  Cukup lama Zahiy terdiam,  membiarkan malam larut dengan keindahannya. "Ya Allah,  Engkau Yang Maha Mengetahui atas apa yang akan terjadi setelah malam ini.  Jika ini adalah pilihan terbaik yang harus hamba pilih,  maka bimbinglah hamba menuju jalan-Mu,"  zahiy kembali mendesah seraya mulai menorehkan tinta di atas lembaran kertas yang sedari tadi ia biarkan tergeletak di atas meja.  Dalam kesendirian,  tangan itu dengan lincah terus menuai kalimat demikalimat yang sebenarnya ia sendiri tidak mau untuk menuliskannya, namun semua sudah terjadi, dan gerakan jari-jemari itulah yang akan menentukan kelanjutan kisah dalam hidupnya kali ini.
Assalamu'alaikum sebuah suara menyeling di balik keheningan.  Entah dari mana suara itu berasal.  Salju menoleh pelan ke asal suara.  Walaupun tidak mungkin mengeta-  hui siapa si pemilik suara,  ia mengenalnya,  benar-benar mengenalnya. "Wa'alaikumussalam,"  balas Salju pelan.  Ia mencoba mengukir senyum.  Lusa adalah hari saat engkau menginjakkan kaki di dunia ini bukan?"  tanya sosok tanpa nama itu.
salju mengangguk pelan.  Ia sendiri heran bagaimana sosok tanpa nama di depannya bisa mengetahui hari isti.  mewanya itu. "Maaf kalau mungkin saya terlambat untuk memberi kado." "Kamu siapa?  tanyasalju.  Hatinya masih menyangsikan apakah benar sosok tanpa nama di depannya adalah sosok yang ia rindu,  sosok muadzin yang selalu menggetarkan jiwanya dalam kalimat rindu yang dilantunkan. "Suatu saat kamu akan mengetahui siapa saya.  Sebe lumnya izinkan saya memberi sebuah kado untuk sosok anggunmu.  Semoga kamu mengingatnya sebelum kita ber-  pisah,  dan mungkin saja kamu tidak akan pernah mendengar tentangku lagi setelah saat ini,"  balas sosok itu. "Perpisahan desah Salju. "lya."  sosok itu mengangguk. "Izinkanlah aku memberi sebuah kado untukmu...."  Salju mengangguk.  Tanpa buang waktu sosok itu me-  narik napas panjang,  lalu dengan suara indahnya sang sosok mengumandangkan panggilan Ilahi yang memang sangat dirindukan Salju,  seruan yang selalu ia tunggu selama se-  minggu ini,  kalimat-kalimat merdu yang membuat seorang Salju merasakan cinta.  Namun belum selesai sang sosok mengumandangkan panggilan itu,  suaranya semakin tipis meninggalkan salju,  semakin jauh sampai akhirnya suara indah itu menghilang tanpa bekas.
"Ke mana?  Ke mana kamu pergi?  teriak Salju. "Non...Non...!  Bangun!  salju tergagap tak menentu.  Ia tak menyangka tengah bermimpi.  Baginya dua hal itu sama.  Kala terlelap,  ia dalam gelap dan kala terbangun pun ia masih dalam kegelapan.  Namun ia berharap kegelapan itu akan segera usai,  semua akan berakhir,  secepatnya. "Ah,  ternyata,  mimpi..."  Sang raja siang masih saja bersinar dengan perkasa,  me-  nampakkan kegagahannya lewat sinar emas yang memancar indah,  tak peduli dengan keringat-keringat yang menetes dari pori-pori pemuda yang kini tengah sibuk membenahi saluran air di jalan sebelah Masjid Darussholah.  Saluran air itu kerap kali tersumbat.  Namun letih seakan tak terasa.  Semua mampu mereka nikmati dengan canda tawa dan ulah lucu Rahmat yang tiada habisnya.  Sejak tadi,  usai melaksanakan shalat Dhuha bersama,  remaja remaja itu terus bekerja dengan penuh semangat,  hingga kini jam sudah hampir menunjukkan tepat pukul 12.00.  Hampir masuk waktu shalat Zhuhur.  Ustadz Roland,  bagaimana keadaan Mas zahiy?  tanya salah satu remaja Masjid Darussholah yang masih sibuk mengarahkan cangkul dengan kuat ke arah selokan yang berisi sampah.
Remaja satunya yang mendengar pertanyaan itu pun me noleh,  mengarahkan pandangannya ke Roland dan juga Fauzi. "Alhamdulillah sudah baikan,  tapi sebenarnya saya sudah menyarankan agar Akhi Zahiy dirawat di rumah sakit,  meli.  hat kondisinya yang lumayan kritis.  Tapi Akhi zahiy terus menolak.  Berkali-kali kami memaksa,  sebanyak itu pula ia menolak.  Jadi kami pun tak bisa berbuat banyak selain dengan sabar merawatnya,  balas Roland seraya mengangkat karung berisi tumpukan sampah"Wah,  padahal kami sudah sangat rindu dengan suara merdu Mas Zahiy,"  sahut Arif yang berdiri di samping Fauzi. "Iya benar,"  Antoni yang berada lumayan jauh tampaknya juga mendengar apa yang baru saja Roland dan Fauzi bicarakan. "Lalu sekarang Mas zahiy di mana?"  tanya Arif seraya mengelap peluh yang menetes tanpa henti. "Dia di rumah takmir,"  balas Roland. "Nanti kami boleh menjenguk?  Siapa tahu nanti Mas zahiy berubah pikiran dan mau dibawa ke rumah sakit. "Amin.  Ya terserah saja deh.  Makasih ya." "Pak Arie mau ke mana?"  tanya Salju menyadari Pak Arie beranjak meninggalkan kamarnya siang itu. "Bapak mau ke Masjid Darussholah,Non.  Mau menjenguk sahabat Bapak,"  balas Pak Arie.
"Sahabat Pak Arie?  Siapa Pak?  Apa Salju mengenalnya?  tanya Salju.  Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. "zahiy,  Non.  Bapak pergi dulu,  ya." "Salju ikut,  Pak!"  pinta Salju.  Suaranya terdengar lirih dan serak.  Pak Arie yang berdiri terdiam memandang Salju.  Ada ragu dalam hatinya untuk mengajak Salju,  apalagi melihat kondisi Salju yang masih membutuhkan istirahat. "Pak,  Salju ikut ya!"  Salju memelas.  Berharap ia bisa pergi ke Masjid Darussholah bersama Pak Arie,  berharap bisa bertemu dengan pemuda bernama Zahiy"Tapi kondisi Non masih butuh istirahat.  Bapak takut dimarahi Nyonya,  Non,"  balas Pak Arie. "Salju ingin ikut Bapak.  Kalau nanti Salju boleh ikut,  salju mau berobat ke rumah sakit."  Kata-kata yang memang sudah diharapkan Pak Arie dan Nurlita,  membawa Salju ke rumah sakit. "Yakin?"  tanya Pak Arie.  Salju mengangguk"Salju janji deh."  la merasa sakit dalam tubuhnya menghilang sudah.  Ia merasa semua akan kembali normal andai bisa kembali mendengar suara merdu itu,  mendengar kalam-kalam cinta yang menenangkan gemuruh dalam jiwanya. "Ya sudah.  Bapak mau mengambil kursi roda dulu.  Non duduk aja dulu."
Salju mengangguk Pak Arie pun segera mengambil kursi roda milik Salju yang berada di ruang tengah.Salju lalu duduk tenang di atasnya dengan bantuan Pak Arie. "Pak,  terima kasih,"  ujar Salju.  Pak Arie membalas ucapan terima kasih salju dengan sebuah senyuman. "Non,  cepat sembuh ya,"  kata Pak Arie seraya mendorong kursi roda menuju garasi mobil,  bersiap melaju menuju Masjid Darussholah.  Ada sebuah cerita yang tersimpan di sana,  sebuah cerita untuk dua hati yang benar-  benar mencintai.
"Assalamu alaikum,"  Rafi mengucapkan salam lirih seraya membawa senampan bubur yang masih hangat. "Assalamu'alaikum,"  Antoni menyusul mengucapkan salam.  Tapi kamar sederhana itu tetap diam,  tiada sebuah jawaban pun dari seseorang yang berada dalam kamar it"Kita buka saja,  mungkin Mas zahiy nya sedang tidur,  ujar Fauzi.  Roland dan Rahmat menyetujui usul Fauzi. "Dikunci,  Mas,"  ujar Fauzi seraya memandang ke arah Roland.  Roland mengalihkan pandangan ke arah Rahmat.  Rahmat memastikan seraya mencoba membuka pintu.  Ternyata benar pintu terkunci. "Zahiy...Zahiy...,  apa kamu di dalam?"  Rahmat memanggil Zahiy.  Ada rasa khawatir dalam hatinya. "Akhi Zahiy Roland memanggil Zahiy.  cukup lama Roland,  Antoni,  Arif,  Fauzi,  Rafi,  dan Rahmat memanggil Zahiy sampai akhirnya Fauzi memberi saran untuk didobrak.  Roland mundur satu langkah seraya mengambil ancang-ancang,  lalu sekuat tenaga mengarahkan bahunya ke pintu kayu kamar Zahiy.  Brak...!
pintu terbuka lebar dan pandangan kelima pemuda itu hanya menatap kamar tanpa penghuni.  Kelimanya terdiam,  seraya bertanya dalam hati mana sosok Zahiy menghilang?  Rafi menoleh ke kanan kiri dan matanya menemukan beberapa amplop putih tergeletak di meja.  Ada selembar foto zahiy yang tampak tampan mengenakan kopiah putih.  perlahan Rafi membaca nama-nama yang tertera di empat amplop itu. "Ustadz Roland,  Akhi Rafi,  Akhi Rahmat...  dan bidadari yang mengusik malamku...  Salju!" "Mas Zahiy sedang sakit jadi tidak mungkin Mas zahiy bisa pergijauh.  Bagaimana kalau kita mencarinya?"  usul Fauzi,  namun belum sempat kelimanya beranjak untuk mencari zahiy,  sesosok gadis dan seorang lelaki separuh baya tengah berdiri mematung di depan pintu. "Pak Arie?"  Rafi terkejut. "Iya,  di mana Zahiy Ada yang mau Bapak bicarakan,"  kata Pak Arie.  Rafi diam.  Ia terpaku memandangi Salju.  Lho,  ini kan gadis yang ada di"Maaf,  Bapak,  Mas Zahiy sedang pergi,"  Roland memecah kecanggungan. "Ke mana?"  tanya Salju tiba-tiba.  Roland ingin menjawab,  tapi lidahnya kelu.  Selain itu,  ia bingung dengan apa yang terjadi.  Ia tak kenal kedua orang yang tiba-tiba saja datang ke kamar zahiy dan mencari pemuda itu.
"Mas zahiy pergi ke mana?  tanya Pak Arie mengulang pertanyaan Salju. "Itulah,  Pak.  Kami juga tidak tahu,  lirih Rafi.  Perpisahan.  Salju teringat mimpinya.  Lalu...  ia merasa tubuhnya ringan.... "Salju...!"  Sontak lelaki separuh baya itu berteriak melihat gadis anggun itu kembali tak sadarkan diri untuk kesekian kalinya.









195 - 213
5
Resolusi
Gadis berwajah anggun itu masih terlelap.  Matanya ter.  pejam,  namun ia tidak dalam keadaan tidur sesun guhnya.  Ia memang tidak pernah mampu untuk membuka matanya.  Membuka mata pun ia tidak akan mampu mena indah pelangi,  menatap debur ombak,  serta menatap impian-  nya untuk bisa merasakan indahnya salju di negeri sakura,  impian yang selalu ia ceritakan kepada dua sahabat yang kini sudah jauh dari pandangan matanya,  Vano dan El Dalam mata yang terlelap,  Salju hanya bisa kembali menarik napas panjang,  mencoba menenangkan jiwanya yang bergemuruh beriring raganya yang justru semakin melemah.  Sebenarnya ia bahagia karena tadi ia mendapat kabar dari Nurlita bahwa ada orang yang akan mendonorkan mata un-  tuknya,  tapi entah apa yang terjadi,  ada ketakutan seiring kebahagiaannya.  Salju kembali mendesah,  lalu merapikan selimut yang hanya menyelimuti sampai perutnya,  dan kini ia mengarah kannya hingga menutupi semuanya,  tak terkecuali wajah yang tiba-tiba menguraikan air mata dengan sendirinya,  menyimpan duka terdalam dalam jiwanya.  Hingga ia pun tak menyadari seseorang yang masuk,  mengulas senyum untuknya. "Salju.  sudah tidur ya?  ujar Nurlita. "Belum,  Bu,"  balas Salju masih tetap menyembunyikan kepalanya dalam selimut,  menyembunyikan tetes bening yang kembali terjatuh untuk yang kesekian kalinya. "Kenapa?  Apa kamu masih sakit?  Salju hening,  raganya memang sudah agak membaik dibanding kemarin,  namun ketakutan dalam jiwa itu membuat raga itu enggan bangkit,  membuat raga itu memilih terbaring hingga terlelap karena saat terlelaplah jiwa itu bisa tenang,  tanpa beban rindu dan ketakutan yang hanya menyisakan rasa sakit. "Tidak kok,  Bu,"  balas Salju akhirnya menyibak selimut,  mencoba duduk,  menampakkan wajah pucatnya,  namun aura dari balik wajah pucat itu tetap terlihat memesona seperti biasanya. "Lho kenapa Salju menangis?  Bukannya Salju seharusnya bahagia besok kita kan persiapan untuk operasi Salju?  Dan sebentar lagi salju bisa merasakan betapa dunia ini memang indah!"  Nurlita mencoba menghibur Salju.  Salju hanya tersenyum simpul,  namun bekas air mata serta raut wajahnya masih jelas ada duka yang terpaut di dalam jiwanya.
"Salju...  ini ada titipan dari pemuda bernama Zahiy.  Apa mungkin dia Zahiy yang kamu ceritakan?  Si pengumandang adzan?"  Zahiy Salju tersentak dalam kerinduan,  membuatnya jiwanya menahan perih yang sempat menghilang,  namun kembali dan kembali,  saat nama itu disebut.Tapi,ia bahagia mendapatkan sebuah titipan dari pemuda yang sangat ia rindu.  Ia bahagia dan tidak sabar untuk mengetahui apa titipan itu. "Titipan apa,  Bu?"  tanya salju menyembunyikan kere.  sahan dalam hatinya. "Amplop. "Surat?" "Sepertinya iya,"  balas Nurlita. "Ibu buka ya.  Iya surat!"  Seperti biasanya,  Salju pun meminta Nurlita untuk mem-  bacakan surat yang tertuju untuknya dari pemuda yang rindu,  Zahiy.
Salju diam.  Nurlita terpaku Sebuah resah beriring kerin uan kembali hadir dalam benak Salju.  Kerinduan untuk sosok yang juga merindunya,  sosok yang juga telah menyatakan cinta untuknya.  Hanya saja,  bahagia karena rindu yang terbalas lenyap sudah saat Salju menyadari sosok itu sudah menghilang,  entah kapan ia akan bisa menemukan sosokitu.  Sosok yang rela menunggunya walau sosok itu tidak tahu apakah Salju mencintainya.  Tes!  Air mata akhirnya meleleh pelan,  mengalir dari pipi putih salju.











240 - 245




6
Koda
Catatan terakhir untuk sang bidadari...  Keyla Rahma.  Atau gadis yang kukenal dengan nama sederhana yang begitu indah Salju Allah...  terima kasih Engkau masih memberi kekuatan bagi tangan lemah ini untuk menuliskan keresahan dalam jiwa.  Entah apa yang harus hamba lakukan malam ini Jiwa hamba begitu rindu dan hamba begitu takut tidak lagi mampu menatap sosok yang hamba rindu...  Namun jika hal itu yang akan terjadi hamba rela...  hamba berserah kepada-Mu...  karena Engkaulah Yang Maha Mengetahui atas segala Sesuatu.  Salju...  jujur aku tidak pernah berharap kamu akan membaca catatan ini.  Namun jika memang kamu membacanya,  aku harap,  kamu mau menerima permintaan maafku yang tidak bisa menemanimu untuk melihat betapa indahnya Negeri Sakura.  Permintaan maafku yang tidak bisa menepis dinginmu kala engkau merasakan butiran putih berjatuhan dari langit...  karena aku tidak akan bisa...  dan tiada akan mampu.
Sungguh...  aku yang mencintaimu.  ingin merasakan semua keindahan itu bersamamu...  bersamamu yang entah aku sendiri tada pernah tahu,  apakah kamu juga mencintaiku sebagai mana aku mencintaimu?  Apa kamu juga merinduku seperti aku merindukanmu?  Apa kamu juga mengasihiku sebagaimana aku mengasihimu?  Namun aku ingin engkau mengetahui...  Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...  seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.  Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...  seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya Salju...  jika kamu telah membaca catatan ini...  aku berharap...  kamu akan menyadari semua yang telah terjadi selama ini.  Aku yang mencintaimu...  dan aku tak berharap apa pun selain satu hal,  izinkan aku melihat apa yang engkau lihat,  izinkan aku menatap semua hal yang engkau tatap,  izinkan aku menjadi malaikat untuk kehidupanmu,  dan izinkan aku menjadi setitik cahaya bagi kisah indahmu.  Salju bagaimana keadaanmu Apa sekarang kamu sudah bisa melihat wajah Vano?  Bibi Nurlita?  Pak Arie...  lalu apakah kamu sudah melihat indah pelangi...  debur ombak di desa Sumber Asri...
Serta melihat salju yang sebenarnya,  dan juga bunga sakura di negeri Jepang?  Kamu pasti bahagia kan?  Kamu harus tersenyum.  Karena aku merindukan senyumanmu yang indah.  Jangan lagi bersedih ya Kuharap,  salju tetap akan menjadi sosok salju di musim terindah dengan senyumannya dan sekali lagi maafkan,  Zahiy,  ya karena Zahiy tidak bisa menemani Salju untuk melihat semesta.  Zahiy sayang Salju.  Dari sosok yang melihat bersamamu,  serta selalu mencintaimu...  Zahiy Karena aku mencintaimu...  izinkan aku melihat apa yang engkau lihat,  menatap apa yang engkau ketahui,  memandang setiap yang hadir dalam hidupmu...  karena aku telah ditakdirkan menjadi bagian hidupmu.  salju hening sejenak,  mengusap air matanya,  tersenyum seraya memandang langit yang membiru dengan indah,  mencoba menghapus dukanya,  karena kini rindu yang i nanti telah ia temukan jawabannya. "Mas,  terima kasih.  Aku akan menunggumu hingga aku akan terlelap nanti,"  desah salju seraya kembali menatap lekat selembar foto. Sosok yang ia rindu ada di sana, menatapnya lekat, bahagia.

"Aku Melihatmu!













252 - 255




Unsur-Unsur Teks Novel "Aku Melihatmu" (Di Sebelah)