NO
|
STRUKTUR TEKS
|
KUTIPAN
KALIMAT DALAM TEKS
|
BUKTI HALAMAN
|
1
|
Abstraksi
|
Kapan? Hanya pertanyaan itu yang sering hadir di benak salju.
Pertanyaan yang sering menghantui harinya yang penih kegelapan. Hari yang salju
harao akan segera usai, dan ia bisa segera melihat mataharu terbit yang selalu
menemani saat membuka mata, serta melihat sang matahari terbenam di Pulau Merah
tempat ia tumbuh dan besar, melihat perempuan yang telah merawat dan membesarkan
dirinya hingga sekarang, melihat sahabat baiknya, melihat semua yang telah Dzat
Yang Mahaindah ciptakan dengan semua lukisan kesempurnaan, lukisan yang hanya
tercipta saat sebuah kalimat terucap.
Kun fayakun! "ya Allah...! Bukalah kembali cahaya hidup ini... pertemu-
kanlah hamba dengan malaikat hamba...." Begitulah!
Setiap pagi datang, salju hanya
mampu terdiam di pesisir, merasakan deru
ombak yang tentu akan sangat indah andai ia melihatnya, tentu ia akan mengulas sebuah senyum untuknya, menyapanya yang selalu setia menemani dengan
nadanya saat bercanda dengan karang yang kokoh, namun sayang, sejak kecil salju sudah tak mampu melihat, sejak kecil hanya kegelapan yang menemani harinya.
Banyak yang mengatakan salju adalah gadis cantik dengan kulit yang seputih salju, memuji semua kelembutannya, tapi apalah arti pujian itu, jika jauh di dalam lubuk hati, salju berduka, menanti sebuah cahaya di hari esok. Sahabat-sahabatnya memanggilnya Salju karena
kulit putihnya. Sebuah panggilan yang menyenangkan. Banyak yang mengatakan kecantikan Salju bagaikan
seorang Putri Salju, kulitnya putih selembut
kapas, para sempurna dan elok. Ah! Tapi
apalah arti pujian dari sahabat dan juga tetangga sekitar. Salju tak pernah melihat bagaimana Allah menciptakan
parasnya, Allah tak pernah memberitahu
bagaimana ia lahir, Kapan ia pertama kali
membuka mata? Serta dari rahim siapa ia
terlahir? salju tak pernah tahu semua itu, namun masih bersyukur, Allah mempertemukannya dengan perempuan muda
yang membesarkan dirinya dengan segenap cinta, mengasuh dan menyayangi bagaikan anak sendiri. Salju bahagia, sungguh-sungguh bahagia, walau terkadang rindu untuk mengetahui siapa
jati dirinya. Saat sendiri Salju kerap
kali resah"Ya Allah..., jadikanlah
catatan yang hamba ukir dalam kegelapan ini sebagai pintu terindah yang akan membuka
tabir yang selama ini tersingkap rapi.
Engkaulah Yang Mahatahu serta Maha Melihat. Pertemukanlah hamba dengan malaikat- malaikat-Mu, malaikat yang akan memberi cahaya terindah untuk
hamba.... Amin....".
|
12 - 14
|
2
|
Orientasi
|
Salju!" Sebuah
suara menyeling pelan dari balik semak yang tumbuh dari arah utara pantai, semak yang membuat suasana di pantai itu menjadi
indah berpadu dengan berbagaitanaman hias yang memang sengaja ditanam, untuk menjaga agar kondisi pantai tetap dingin
dan nyaman, tidak panas oleh matahari yang
terkadang sering kali tak terkendali. Gadis
yang tengah duduk tenang di atas batu berteman tongkat yang selalu menjadi sahabat
baiknya itu menoleh, mencoba mencari asal
suara walau ia tak akan pernah mampu melihat siapa pemilik suara itu. Sebuah suara yang sangat ia kenal, sebuah suara yang selalu menemani hari sepinya.
"Iya," gadis yang sejak kecil
mendapat julukan Salju itu menjawab lirih.
Suaranya yang pelan nyaris habis berbaur dengan deru angin pantai yang
meraung-raung tanpa henti, bagai segerombolan
anak singa yang tengah berlarian, saling
berkejar-kejaran. Bertubrukan, dan semua bunyi itu. menghilang setelah menghantam karang, redam.
Vano, pemuda itu, hanya diam dan terus diam seraya memandang debur
ombak di pagi buta. La benar-benar tak
pernah mampu mengungkap sesuatu yang selalu mengusik siang dan malamnya. Ia tak pernah mampu melukiskan sebuah keindahan
yang justru melukainya saat itu. Dan ketidakkuasaan
itulah yang akhirnya membuat ia diam, kalut
dalam sejuta harapan cinta, menunggu jawaban
di hari esok. Jawaban yang semua masih
semu, yang hanya menyisakan sebuah bingkai
duka untuk ia letakkan dalam hidupnya.
Apa aku bisa menjadi malaikat untukmu?
Malaikat- malaikat yang selalu engkau
ceritakan saat kecil dulu. Malaikat yang
memberikan segalanya untukmu Bahkan hidup mereka? Tapi aku sendiri tak tahu, apakah aku mampu? Apakah cinta ini bisa mengantarku menjadi malaikat
untukmu? Salju... aku mencintaimu, desah Vano di kedalaman jiwanya, membiarkan semua larut bersama deru angin yang
semakin cepat mengiringi perjalanan waktu menuju tahta matahari yang sempurna.
"Vano... kenapa
kamu hanya gan untuk mengusir sedih dan laraku di pagi ini?" ujar salju diam. Menahan sesuatu yang tertahan di pelupuk matanya. Berat,
ia tak mau lagi menangis atas apa yang telah menjadi pilihan hidupnya. Pilihan yang hadir setelah ia mendengar cerita
tentang kepindahan perempuan yang telah membesarkannya dengan cinta dan kasih
sayang, perempuan yang telah memberinya
sebuah nama nan indah, Keyla Rahma. Nama yang mencerminkan kesempurnaan sifat dan
wajah anggunnya, hingga sebuah nama baru
hadir beriring nama indah itu, Salju. Nama itulah yang kini menjadi simbol kesucian
jiwa Rahma, sebuah nama yang tidak akan
bisa dimiliki gadis desa mana pun, termasuk
Elysa, sahabat baik Salju. "Maaf, hanya saja... aku bingung! Aku bingung apa yang harus aku katakan saat
ini. Ini baru pertama kalinya aku melihat
engkau bersedih. Biasanya engkau selalu
ceria.Engkau selalu menampakkan senyummu itu tapi di pagi ini semua itu menghilang. Kenapa engkau justru bersedih? Kenapa?Apakah ada cerita yang membuat engkau
bersedih? Cobalah engkau berbagi dengan
diriku ini. Sahabatmu," balas Vano pelan seraya menaikkan risleting
jaket yang kembali ia kenakan karena salju tadi menolak niat baiknya, menariknya sampai ke leher, mencoba mengusir dingin yang membuat tubuhnya
sedikit menggigil.
Pandangannya masih saja sayu, ia tak pernah menyangka, gadis anggun yang telah menjadi sahabatnya sejak
kecil itu kini berduka, duka yang membuatnya
takut, takut andai ia tidak akan lagi melihat
senyuman dan bercanda dengannya. la pasti
akan merindukan semua kisah dengan salju,
sahabat terbaik yang sangat ia cintai,
cinta yang ia simpan rapat, hanya
ia dan Allah yang tahu"Van, aku tidak
bisa menerima semua ini. Hatiku berat untuk
meninggalkan desa ini Walau di sini bukan tempatku lahir dari tempat iniaku tumbuh
dan belajar banyak hal. Dari tempat ini
aku merasakan dunia Dunia yang seakan mampu kupandangi dalam kegelapan, yang selalu menyelubungiku setiap waktu. Aku takut,
saat aku benar-benar pergi ke tempat lain, aku tak lagi bisa menemukan dunia yang indah
seperti pagi ini. Dunia yang bisa membuat
aku tertawa, bahagia, balas Salju. Pikiran Salju kacau teringat dialognya dengan
perempuan yang sangat ia sayangi, perempuan
yang telah memberikan segenap cinta untuk dirinya yang terlahir di dunia tanpa
pernah mengenal kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dialah bidadari suci itu, Nurlita.
|
15
20 - 22
|
3
|
Komplikasi
|
Usai melaksanakan shalat Ashar bersama para jamaah, Zahiy duduk di teras Masjid Darussholah, membubarkan la munannya sejauh mungkin, mencoba kembali merenungkan apa yang baru saja
ia lakukan sesaat itu. Shalat, ya melaksanakan shalat, sesuatu yang Zahiy sebenarnya ia sendiri tidak
tahu bagaimana cara melaku- kannya, bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana gerakan
demi gerakan itu ada, apa nama dari setiap
gerakan tersebut? Dan apa saja yang dibaca
di dalam shalat? Namun Zahiy begitu menikmatinya. Ia mampu merasakan sesuatu yang berbeda saat
mengikuti semua gerakan imam shalat, saat
mendengarkan bacaan bacaan yang dilantunkan sang imam dengan merdu. Ia menikmatinya dan kembali, ada sesuatu yang tepercik di dalam jiwanya, rindu. "Assalamu alaikum," seorang pemuda yang duduk ber- sebelahan dengan Zahiy, mengucapkan salam lirih. Keha.
dirannya tak disadari Zahiy. Zahiy
menoleh sejenak. Ia membalas salam itu, wa'alaikumussalam "Alhamdulillah. Bagaimana kabar, Akhi?"
sapa pemuda itu ramah. Wajahnya
tampak cerah dan tenang, sesuai dengan
sarung biru, baju koko putih cerah dan
corak batik biru di sekitar leher, dipadu
kopiah haji yang sangat serasi dengan ketampanan pemuda itu Zahiy tersenyum menatap
pemuda tampan di sampingnya. Tsehat, Tadz,
balas Zahiy memanggil pemuda itu dengan embel-embel tad atau kependekan
dari ustadz. zahiy yakin, pemuda yang kini juga tengah menatapnya tajam
itu adalah seorang ustadz, pengurus Masjid
Darussholah besar nan agung ini. -Maaf,
Akhi, tidak layak jika memanggil
saya ustadz kenalkan nama saya Roland Lengkapnya Muhammad Roland al-Muhtar, balas Roland. zahiy tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. "Nama saya
Zahiy, Mas." Nama panjangnya? tanya Roland. Zahiy kembali mengulas senyum. "Saya tidak
tahu. ya zahiy saja sudah cukup. "Lho,
gimana to Akhi ini panjang lupal ujar ama Sendiri lupa!" ujar Roland
bercanda.
"Bagaimana?
Insya Allah, apa pun yang Akhi perlukan
selama Akhi menjadi pengurus masjid, Insya
Allah akan kami penuhi," ujar Roland
kembali memberi tawaran, menatap Zahiy
lekat yang masih terlarut dalam keraguan. "Tapi saya tidak bisa apa-apa. Bahkan saya shalat saja belum benar. Saya tidak tahu apa saja yang dibaca saat shalat. Tentang pekerjaan-pekerjaan lain yang dilakukan
para mereka yang kerap ke masjid ini, tentang
semuanya, saya masih sangat asing dengan
apa yang baru saja saya alami sore ini Lalu apa mungkin saya menjadi pengurus
Masjid Darussholah yang agung ini?"
balas Zahiy, masih ragu. Sebuah suara meneriakkan siapa dirinya. Ia hanya pemuda kotor hina yang terbiasa hidup
di jalanan, berkumpul bersama debu-debu
kotor yang menghantamnya tanpa permisi setiap waktu. Ia manusia yanglupa akan diri mereka sendiri, termasuk melupakan Tuhan. Tak pantas jika ia menjadi pengurus Masjid Darussholah
nan indah ini, masih banyak orang lain
yang lebih pantas dari dirinya. Zahiy masih
larut Roland dalam pikirannya. "Ketahuilah, Saudaraku,
tidak ada yang tidak mungkin di dalam kehidupan kita sebagai seorang manusia, sebagai seorang cucu Adam yang mulia. Allah tidak akan pernah saat mengubah nasib
suatu kaum jika mereka tidak mengubahnya tkua sendiri. Jadi kita harus berubah dan kita harus yakin
bahwa Allah akan memberi hidup kita yang lebih indah. Akhi yakin akan adanya kekuasaan Allah yang
tiada pernah terbayang kan, kan?"
Iya." Zahiy
mengangguk yakin, lalu merunduk, perih dalam hatinya kembali hadir saat ia harus
teringat telah lama melupakan Allah. "Jika keyakinan itu masih ada, apa salahnya jika Akhi berusaha untuk berubah. Ayolah,
Akhi. Jangan ragu. Yakin yakin! Bahwa Akhi bisa menjadi lebih baik dari Akhi
yang sekarang. Akhi harus mampu muncul
sebagai sosok baru yang lebih baik dari hari ini. Saya yakin Akhi mampu mela. kukannya," Roland terus memberi keyakinan kepada Zah"Tidak
tahu. Mas. Mungkin jika keyakinan itu muncul saya akan
kembali ke sini lagi. Namun untuk saat
ini, saya belum bisa memberikan jawaban
atas apa yang saya rasakan dalam hati saya.
Semua masih berselimutkan keraguan yang belum juga menghilang walau saya
telah mencoba meng- hapusnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan
saat ini. Doakan saja Mas, saya bisa lebih baik dari hari ini, balas Zahiy. Baru pertama kali ini ia meminta didoakan kepada
orang yang baru ia kenal. "Baiklah.
Besok pagi, usai shalat Subuh saya
harap Akhi sudah bisa memberikan jawaban buat saya. Saya akan me- nunggu Akhi dan saya harap Akhi akan benar-benar
datang untuk menjadi seseorang yang baru." "Iya balas lahiy Wajahnya
tampak kosong, kebingungan belum hilang
sepenuhnya walau mungkin pikirannya sudah sedikit tenang dari kecamuk resah yang
sejak tadi hadir. "Ya sudah, Mas, saya pergi dulu Insya Allah besok subuh saya
akan datang menemui Mas," lanjut Zahiy
berpamitan. Ia menyalami Roland erat bagai
seorang sahabat yang enggan terlepas dalam perpisahan, menatapnya sejenak dalam ruang kebahagiaan mengulas
sebuah senyum simpul penuh arti, lalu mengambil
pakaian kumal yang tadi ia masukkan di dalam keresek hitam, membawanya pelan beriring resah yang mulai menjauh.
"Allah..." Zahiy mendesah. Berat rasanya kakinya me langkah meninggalkan
tempat agung nan indah. Ia merasa telah
menemukan hal baru, dan akhirnya langkahnya
terhenti tepat di depan gerbang masjid Menatap jauh ke luar gerbang. jalanan masih tampak ramai dengan lalu lalang
jamaah yang sudah pulang. Wajah wajah cerah
itu takluput dari pandangan zahiy membuatnya iri dengan setiap guratan kebahagiaan
yang terpancar dari mereka. Brukk! Seseorang menabrak zahiy dari arah belakang, mem-
bubarkan lamunan. Zahiy menoleh.
"Maaf, Mbak, maaf ujar Zahiy seraya mundur selangkah. Menjaga jarak dengan perempuan yang baru saja
menabraknya dari arah belakang. Ia menatap
perempuan yang masih tertunduk itu. Perempuan
itu pun hanya diam sejenak lalu berjongkok cepat, mengambil sesuatu yang terjatuh saat menabrak
sosok Zahiy yang mematung di depan gerbang masjid. zahiy yang tersadar dengan siapa kini ia berhadapan
langsung mengambilkan tongkat yang terjatuh dari tangan perempuan itu. Terlempar lumayan jauh dari posisi perempuan
yang menabraknya. "Ini, Mbak," ujar Zahiy seraya mengulurkan tongkat kayu yang
baru saja diambilnya, usai mengelap debu
yang menem- pel di tongkat dengan baju
kumal yang ia ambil dari keresek"Maaf,
Mas, saya tidak tahu. Maafkan saya," balas perem- puan itu seraya mengarahkan wajahnya ke arah
Zahiy. Walau sadar, ia tak akan mampu melihat sosok pemuda di depannya. Zahiy diam.
Matanya beradu dengan mata perempuan buta yang ternyata memiliki wajah
teduh dan anggun,wajah yang begitu sempurna bagaikan seorang putri tercantik dari
para bidadari surga. Ia berbalut kerudung
putih nan indah yang membuat sosok gadis buta itu menjadi semakin istimewa bagi
setiap mata yang menatapnya. -Mas... Mas... maafkan saya, gadis anggun itu kembali meminta maaf. Ada rasa bersalah dalam hati kecilnya. Gadis itu terdiam sejenak, menunggu jawaban dari pemuda yang baru saja
ia tabrak. lalu mengulas sebuah senyuman
seakan tak sadar senyuman itu justru menambah zahiy larut dalam keheningan. Zahiy yang berada di depannya malah semakin
terpaku. Ya Allah, inikah bidadari Mu?Inikah bidadari? Apakah ini surga Mu? Surga dengan keindahan yang Engkaujanjikan untuk
mereka yang merindu Mu? desah Zahiy. "Eh, Mbak,
maaf. Tadi saya yang salah kok. Saya yang berhenti mendadak. Jadi maklum kalau Mbak yang nabrak saya," ujar Zahiy tersenyum simpul bahagia, dengan kekaguman yang jelas masih tampak dari
raut wajahnya. Gadis anggun itu tersenyum, lalu membenahi kerudung putih yang ia kenakan"Ya
sudah, terima kasih banyak, Mas.
Assalamu'alaikum." suara gadis
itu membuat zahly diam. Berkali kali ia
menarik napas panjang, seakan tak sadar
gadis anggun yang ia temui telah pergi dari hadapannya, masuk ke dalam mobil bersama seorang lelaki
paruh baya, Zahiy mendesah, membiarkan dirinya larut dalam sesuatu yang
ia sendiri tak mengerti. Sesuatu yang menurutnya
sangat aneh. Wajah itu menghantui... menghantui jiwanya.
"Bodooh!"
zahiy mendesah, menyadari kebodohannya
yang tidak menanyakan siapa nama gadis buta yang baru saja ia temui. Ada sedikit sesal di dalam hatinya. Namun,
ia yakin suatu saat nanti pasti akan kembali bertemu dengan gadis itu walau
ia tahu, gadis itu tidak akan mengenalinya. Tapi mengenal atau tidak, bukanlah hal terpenting bagi Zahiy. Yang terpenting bagi Zahiy adalah kembali bertemu
dengan gadis itu entah kapan, mendapatkan
seulassenyuman yang mampu menenangkan jiwanya, tidak lebih. Ia belum mengerti apa yang kini hadir dalam
hatinya. Hadir saat ber- temu dalam senja terindah di sepanjang hidupnya.
|
77 - 87
|
4
|
Evaluasi
|
Mas, tolong dipindah
salurannya ya, pintazahiy dengan nada lemah. Rafi tersenyum. Ada sepercik harapan dalam jiwanya setelah ia
mendengar suara zahiy,suara yang tiada la dengar selama tiga hari ini, tepatnya setelah Zahiy dirawat di rumah. -yang
mana? balas Rafi sabar seraya menggantisaluran
televisi. Memang hari ini ia yang mendapat
tugas untuk menjaga Zahiy. Roland dan Rahmat
tengah ikut kegiatan pembenahan jalan di sekitar masjid. Teruskan,
perintah Zahiy masih fokus menatap laya TV yang terus beralih. Ada sesuatu yang muncul dalam benak zahiy Entah
apa itu, namun ia yakin, hari ini,
di pagi ini, ia akan segera menemukan
semua jawaban. Berhenti! Rafi menghentikan gerakan jarinya memencet tombol. Dan kini,
pandangan Zahiy beradu pada seorang wanita cantik yang tengah duduk bersama
seorang presenter. Keduanya asyik berbincang. Zahiy meminta tolong untuk mengeraskan volume
sampai telinga Zahiy yang mengalami gangguan bisa mendengar dengan jel"Assalamu
alaikum ehm... nama saya Faza Elysa seorang
wanita anggun dalam sebuah acara di stasiun televisi itu memperkenalkan diri. Sebuah nama yang indah. Zahiy dan Rafi kembali melihat dengan khusyuk
acara tersebut, acara yang tampaknya akan
membahas tuntas sebuah kisah perjalanan orang-orang yang memiliki keisti. mewaan.
Dan di pagi itu, seorang presenter
memberi pembukaan dengan memperkenalkan seorang Faza Elysa yang ternyata seorang
cerpenis terbaik nasional dengan sebuah cerpennya yang berjudul Salju"Bagaimana
Mbak Elysa bisa mengawali penulisan cerpen berjudul'Salju' ini,
hingga akhirnya bisa menjadi sebuah cerpen yang sangat menarik. bahkan bisa menjadi cerpen terbaik nasional
tahun ini?" presenter cantik itu bertanya
kepada si narasumber yang bernama Elysa.
Elysa tersenyum sejenak, menarik
napas pelan, lalu dengan nada ringan menjawab
seadanya, menjawab semua yang memang ingin
ia ungkap kepada publik. Ia ingin me ngatakan
ada sebuah kisah menarik yang perlu diketahui dunia kisah tentang seorang gadisnananggun
dengan nama indahnya, Salju Rafi dan zahiy
masih sibuk melthat ke layar Tv tampak kedua wanita anggunyangkini masih asyik
berdialog tentang cerpen "Salju" Sebelum saya membahas tentang cerpen
sederhana ini, saya ingin memperkenalkan
seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya. Seseorang yang membuat hidup ini terasa indah, membuat perjalanan kisah dalam hidup ini terasa
sempurna dengan semua kekurangannya, dan
membuat saya bisa duduk tenang di lcursi ini.
Salju... sahabatku, ujar Elysa seraya mengambil sesuatu dari dalam
tas merah yang ia bawa. Ini dia adalah
salju. Dia adalah Saljudimusim terindah
yang pernah saya temukan sosok sahabat terbaik yang selalu hadir dengan kisah
yang pantas untuk saya abadikan dalamsederhan catatan saya. Dialah Salju, sahabat terbaik yang pernah hadir
dalam kehidupan ini," lanjut Elysa
seraya menunjukkan sebuah foto seorang gadis yang mengulas senyum manis, wajah yang benar-benar sempurna bagai pesona
seorang Ratu Cleopatra, atau mungkin seorang
bidadari Ehm... maaf, Mbak Elysa,
kalau boleh kami tahu, apa hubungan
gadis di foto itu dengan cerpen yang membuat nama Mbak menjadi penulis muda yang
sukses saat ini? tanya sang presenter sopan. Elysa kembali tersenyum. Kedua tangannya masih memegang foto. Sementara,
Zahiy masih terpaku. Rindu dalam
jiwanya benar-benar membuatnya berkalikali menarik napas panjang, sampai akhirnya air mata itu meleleh beriring
bibir pucat yang menyebut sebuah nama.
Salju Rafi yang mendengar Zahiy menyebut nama Salju menoleh, lalu mengajukan pertanyaan untuk Zahiy yang
teng gelam dalam duka. "Apa Mas kenal dengan gadis di foto itu?" sangat Rafi menatap Zahiy yang tiba-tiba berurai
air mata. Zahiy hanya diam, seakan tak mendengar pertanyaan Rafi. Kinijiwa hidup itu benar-benar telah larut dalam
bahasa cintanya, larut oleh hidup in bait
demi bait yang meluncur dengan merdunya,
tenggelam iu' oleh danau cinta yang
meluap hingga tiada menyisakan celah kosong dalam hatinya, Celah itu telah terisi oleh satu nama kini. Salju. Zahiy memusatkan perhatiannya pada televisi. Ia tak menggubris pertanyaan Rafi. "Sejak
kecil Allah telah memberi garis tersendiri untuk takdir seorang salju. Di balik anggun wajahnya, seorang salu harus merasakan gelap. Ia terlahir tanpa mampu melihat, tanpa mampu menatap indah pelangi yang menurut
semua orang sempurna dengan tujuh warnanya.
Tapi bagi saya dan penduduk desa Sumber Asri, Salju-lah pelangi terindah yang pernah kami
temukan. "Saya mengenalnya sejak kami masih kecil. Saya tidak sendiri. Kami bertiga menjadi seorang sahabat. Saya,
Vano, dan Salju. Kami selalu berbagi dalam segala hal. Saya dan Vano adalah mata untuk Salju melihat. Kami berdua adalah sepasang tangan untuk Salju
menggapai sesuatu. Kami berdua adalah kaki
bagi Salju untuk melangkahke mana pun yang ia inginkan. Tapi sayang, kami belum bisa menemukan apa yang sebenarnya
Salju cari dalam hidupnya...." Zahiy
tak lagi fokus. Salju... dialah bidadari itu!
Mas! Sampean kenapa?" tanya Rafi.
Pandangannya masih lurus menatap tetes bening yang mulai hke berjatuhan
usai melihat sebuah acara di stasiun televisi ten tang dialog dua orang gadis, dan salah satu gadis itu bernama Elysa, seorang penulis cerpen berjudul"Salju". zahiy yang ditanya hanya diam. Memang benar, hati itu kini bisa kembali menguntai senyum. Sejujurnya ia memang ingin bangkit, ia ingin segera sembuh, hanya saja ia tidak tahu kapan. Ia ingin mengistirahatkan jiwanya, namun tak mampu karena di setiap embusan napas, jiwa itu masih terus bernyanyi dengan rindu, rindu untuk seorang gadis buta di senja, Salju"Mas, lebih baik Mas makan dulu. Nanti kalau habis makan, Mas minum obat! Lalu Mas bisa cerita masalah Mas ke Rafi. Insya Allah, jika Rafi mampu, Rafi akan membantu sebisa Rafi," ujar Rafi seraya kembali mengambil mangkuk buburnya, sudah agak dingin.
zahiy kembali hening sejenak, tidak cukup lama sampai akhirnya ia menoleh
ke arah Rafi. Keduanya menatap ko. song dan kekosongan itu sirna sudah saat Zahiy
mengulas senyuman untuk Rafi. "Terima kasih," ujar Rafi seraya mengarahkan mulutnya tepat
menuju sesendok bubur yang baru saja Rafi arahkan kepadanya. Dengan sabar Rafi menyuapi Zahiy. "Mas, ini obatnya!" Rafi kembali membukakan bungkus obat. Sudah tiga hari Zahiy dirawat di rumah, hanya saja ia menolak untuk meminum obat yang
diberikan dokter, bahkan terkadang Zahiy
menolak untuk mengisi perutnya, sampai
akhirnya dokter pun memberi vitamin tambahan untuk Zahiy Zahiy dengan tenang menuruti
apa yang diperintahkan Rafi. Rafi tersenyum
bahagia. "Mas, kalau Mas mau cerita, silakan.
Apa mungkin Mas mengenal gadis di acara televisi tadi? Soalnya tadi saya lihat Mas menangis setelah
Mas melihat gadis bernama Elysa tadi mengeluarkan selembar foto gadis yang sangat
cantik itu. Apa Mas mengenal gadis di foto
itu?" tanya Rafi. Ia sangat yakin ada sesuatu yang disembunyikan
Zahiy. zahiy hanya menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. Sebenarnya ia ingin menceritakan semuanya segera
di pagi ini, tapi ia masih memilih untuk
menenangkan sesuatu yang terus menderu dalam jiwanya. "Jadi Mas benar-benar
mengenalnya? Dari mana? Sejak kapan Mas mengenalnya? Apa mungkin semua yang terjadi dalam hidup Mas
karena gadis itu?"
zahiy diam, sampai
akhirnya dengan sisa suaranya yang hampir habis ia menceritakan semuanya kepada
Rafi, sebuah cerita yang sempat ia ceritakan
juga kepada Rahmat dulu, saat keduanya
masih hidup sebagai anak jalanan. "Banyak hal yang mungkin harus tersembunyi
selama ini. Tentang masa lalu, tentang rindu. tentang cinta dan tentang Dengan nada sedih
Zahiy mulai menceritakan siapa diri. nya
di masa lalu bersama Rahmat. Semula Rafi
sempat tidak percaya kalau masa lalu Zahiy adalah seorang anak jalanan. tapi Zahiy kembali melanjutkan ceritanya tentang
pertemuan Zahiy dengan Pak Arie, Roland, hingga seorang gadis buta di senja. Bahkan dengan terang-terangan Zahiy mengatakan"Aku
mencintainya. Aku benar-benar mencintainya. Aku tak pernah tahu apa yang bisa aku lakukan. Aku bukanlah Qais, tapi aku rela terkubur dalam gua batu nan gelap
asal aku selembarini bisa mencintainya.
Aku rela menjadi jembatan batu selama malgadsG ribuan tahun, diterpa hujan dan badai karena mencintainya. agar aku bisa merindunya. Rafi hanya bisa menelan ludah haru. Ia tidak sanggup membayangkan seberapa besar
cinta Zahiy kepada sosok gadis ang buta yang Zahiy temui di senja itu. "Mas, apa Mas mengenal gadis itu?" Rafi kembali meng- ajukan pertanyaan yang sama. Ia semakin penasaran untuk mengetahui semua
kisah yang dialami zahiy.
"Tidak. Aku
tidak mengenalnya. Hanya di pertemuan senja
itu semua bermula." Zahiy kembali
menceritakan pertemuan di senja itu. Rafi
hanya termenungkagum.Cinta memang aneh,
tiada yang tahu kapan dan di mana cinta itu datang, mengapa cinta itu hadir? Dan kepada siapa cinta itu harus tertuju? "Jadi
semua bermula sejak pertemuan itu. Lalu
apa yang membuat Mas jatuh cinta kepada gadis buta itu?" "Saya tidak
tahu, balas zahiy. "Bukankah Mas bisa
menemukan sosok itu kembali?" "Iya.
Tapi saya ragu. mencarikan A"Nanti
biar saya dan temen-temen yang alamat gadis itu." Zahiy mengangguk seraya tersenyum. Rafi pun berlalu meninggalkan Zahiy Pikirannya
semrawut karena cerita Zahiy tadi.
Zahiy terus berdebat dengan argumen argumennya. "Apa
yang harus aku lakukan, ya Allah? desah Zahiy seraya memainkan selembaran kertas
dan pena yang baru saja ambil dari kotak buku, Pena yangsudah lama labiarkan sendiri selama
tubuhnya terkapar bersama rasa sakit sejak hampir seminggu lebih, Kini dengan sisa tenaga yang dimiliki. Zahiy mencoba menulis sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan segera mewakili apa
yang akan ia pilih dan ia jalani. Aku tidak mau menyusahkan semuanya. Akhi Roland Rahmat, Rafi, Pak Arie,
dan yang sudah mengenalku. Maafkan
aku yang terlalu lemah dalam menghadapi hidup. Maafkan aku," desah zahiy kembali mengingat betapa baiknya
mereka yang sudah mengenal dirinya. Tenanglah. Kamu harus yakin dengan apa yang akan kamu pilih. Jika hatimusudah menentukan sebuah pilihan, lakukanlah.
Jangan ragu dengan apa yang harus kamu lakukan. Kamu yakini saja, Allah pasti akan memberi jalan terbaik untuk
setiap hamba-Nya yang sudah berusaha, sebuah
bisikan kecil dalam hati zahiy"Tapi aku tidak berusaha. Aku berputus asa. Aku menolak untuk diperiksa lanjut karena aku
akui, aku sendiri takut untuk mengetahuipenyakit
apa yang kini ada di kepalaku. Aku takut! Namun ketakutan itu akan lebih terasa menyakitkan
jika menyusahkan semua sahabat-sahabatku.
Aku tidak mau! sanggah Zahiy dengan
napasnya yang memburu. Cukup lama Zahiy
terdiam, membiarkan malam larut dengan
keindahannya. "Ya Allah, Engkau Yang
Maha Mengetahui atas apa yang akan terjadi setelah malam ini. Jika ini adalah pilihan terbaik yang harus hamba
pilih, maka bimbinglah hamba menuju jalan-Mu," zahiy kembali mendesah seraya mulai menorehkan
tinta di atas lembaran kertas yang sedari tadi ia biarkan tergeletak di atas meja. Dalam kesendirian, tangan itu dengan lincah terus menuai kalimat
demikalimat yang sebenarnya ia sendiri tidak mau untuk menuliskannya, namun semua
sudah terjadi, dan gerakan jari-jemari itulah yang akan menentukan kelanjutan
kisah dalam hidupnya kali ini.
Assalamu'alaikum sebuah suara menyeling di balik keheningan. Entah dari mana suara itu berasal. Salju menoleh pelan ke asal suara. Walaupun tidak mungkin mengeta- hui siapa si pemilik suara, ia mengenalnya, benar-benar mengenalnya. "Wa'alaikumussalam," balas Salju pelan. Ia mencoba mengukir senyum. Lusa adalah hari saat engkau menginjakkan kaki
di dunia ini bukan?" tanya sosok tanpa
nama itu.
salju mengangguk pelan.
Ia sendiri heran bagaimana sosok tanpa nama di depannya bisa mengetahui
hari isti. mewanya itu. "Maaf kalau
mungkin saya terlambat untuk memberi kado." "Kamu siapa? tanyasalju.
Hatinya masih menyangsikan apakah benar sosok tanpa nama di depannya adalah
sosok yang ia rindu, sosok muadzin yang
selalu menggetarkan jiwanya dalam kalimat rindu yang dilantunkan. "Suatu
saat kamu akan mengetahui siapa saya. Sebe
lumnya izinkan saya memberi sebuah kado untuk sosok anggunmu. Semoga kamu mengingatnya sebelum kita ber- pisah,
dan mungkin saja kamu tidak akan pernah mendengar tentangku lagi setelah
saat ini," balas sosok itu. "Perpisahan
desah Salju. "lya." sosok itu
mengangguk. "Izinkanlah aku memberi sebuah kado untukmu...." Salju mengangguk. Tanpa buang waktu sosok itu me- narik napas panjang, lalu dengan suara indahnya sang sosok mengumandangkan
panggilan Ilahi yang memang sangat dirindukan Salju, seruan yang selalu ia tunggu selama se- minggu ini,
kalimat-kalimat merdu yang membuat seorang Salju merasakan cinta. Namun belum selesai sang sosok mengumandangkan
panggilan itu, suaranya semakin tipis meninggalkan
salju, semakin jauh sampai akhirnya suara
indah itu menghilang tanpa bekas.
"Ke mana? Ke
mana kamu pergi? teriak Salju. "Non...Non...! Bangun!
salju tergagap tak menentu. Ia tak
menyangka tengah bermimpi. Baginya dua
hal itu sama. Kala terlelap, ia dalam gelap dan kala terbangun pun ia masih
dalam kegelapan. Namun ia berharap kegelapan
itu akan segera usai, semua akan berakhir, secepatnya. "Ah, ternyata,
mimpi..." Sang raja siang masih
saja bersinar dengan perkasa, me- nampakkan kegagahannya lewat sinar emas yang
memancar indah, tak peduli dengan keringat-keringat
yang menetes dari pori-pori pemuda yang kini tengah sibuk membenahi saluran air
di jalan sebelah Masjid Darussholah. Saluran
air itu kerap kali tersumbat. Namun letih
seakan tak terasa. Semua mampu mereka nikmati
dengan canda tawa dan ulah lucu Rahmat yang tiada habisnya. Sejak tadi,
usai melaksanakan shalat Dhuha bersama, remaja remaja itu terus bekerja dengan penuh
semangat, hingga kini jam sudah hampir
menunjukkan tepat pukul 12.00. Hampir masuk
waktu shalat Zhuhur. Ustadz Roland, bagaimana keadaan Mas zahiy? tanya salah satu remaja Masjid Darussholah yang
masih sibuk mengarahkan cangkul dengan kuat ke arah selokan yang berisi sampah.
Remaja satunya yang mendengar pertanyaan itu pun me noleh, mengarahkan pandangannya ke Roland dan juga
Fauzi. "Alhamdulillah sudah baikan,
tapi sebenarnya saya sudah menyarankan agar Akhi Zahiy dirawat di rumah
sakit, meli. hat kondisinya yang lumayan kritis. Tapi Akhi zahiy terus menolak. Berkali-kali kami memaksa, sebanyak itu pula ia menolak. Jadi kami pun tak bisa berbuat banyak selain
dengan sabar merawatnya, balas Roland seraya
mengangkat karung berisi tumpukan sampah"Wah, padahal kami sudah sangat rindu dengan suara
merdu Mas Zahiy," sahut Arif yang
berdiri di samping Fauzi. "Iya benar," Antoni yang berada lumayan jauh tampaknya juga
mendengar apa yang baru saja Roland dan Fauzi bicarakan. "Lalu sekarang Mas
zahiy di mana?" tanya Arif seraya
mengelap peluh yang menetes tanpa henti. "Dia di rumah takmir," balas Roland. "Nanti kami boleh menjenguk? Siapa tahu nanti Mas zahiy berubah pikiran dan
mau dibawa ke rumah sakit. "Amin.
Ya terserah saja deh. Makasih ya."
"Pak Arie mau ke mana?" tanya
Salju menyadari Pak Arie beranjak meninggalkan kamarnya siang itu. "Bapak
mau ke Masjid Darussholah,Non. Mau menjenguk
sahabat Bapak," balas Pak Arie.
"Sahabat Pak Arie?
Siapa Pak? Apa Salju mengenalnya? tanya Salju. Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam benaknya.
"zahiy, Non. Bapak pergi dulu, ya." "Salju ikut, Pak!"
pinta Salju. Suaranya terdengar
lirih dan serak. Pak Arie yang berdiri
terdiam memandang Salju. Ada ragu dalam
hatinya untuk mengajak Salju, apalagi melihat
kondisi Salju yang masih membutuhkan istirahat. "Pak, Salju ikut ya!" Salju memelas. Berharap ia bisa pergi ke Masjid Darussholah
bersama Pak Arie, berharap bisa bertemu
dengan pemuda bernama Zahiy"Tapi kondisi Non masih butuh istirahat. Bapak takut dimarahi Nyonya, Non,"
balas Pak Arie. "Salju ingin ikut Bapak. Kalau nanti Salju boleh ikut, salju mau berobat ke rumah sakit." Kata-kata yang memang sudah diharapkan Pak Arie
dan Nurlita, membawa Salju ke rumah sakit.
"Yakin?" tanya Pak Arie. Salju mengangguk"Salju janji deh." la merasa sakit dalam tubuhnya menghilang sudah. Ia merasa semua akan kembali normal andai bisa
kembali mendengar suara merdu itu, mendengar
kalam-kalam cinta yang menenangkan gemuruh dalam jiwanya. "Ya sudah. Bapak mau mengambil kursi roda dulu. Non duduk aja dulu."
Salju mengangguk Pak Arie pun segera mengambil kursi roda
milik Salju yang berada di ruang tengah.Salju lalu duduk tenang di atasnya dengan
bantuan Pak Arie. "Pak, terima kasih," ujar Salju.
Pak Arie membalas ucapan terima kasih salju dengan sebuah senyuman. "Non,
cepat sembuh ya," kata Pak Arie seraya mendorong kursi roda menuju
garasi mobil, bersiap melaju menuju Masjid
Darussholah. Ada sebuah cerita yang tersimpan
di sana, sebuah cerita untuk dua hati yang
benar- benar mencintai.
"Assalamu alaikum," Rafi mengucapkan salam lirih seraya membawa
senampan bubur yang masih hangat. "Assalamu'alaikum," Antoni menyusul mengucapkan salam. Tapi kamar sederhana itu tetap diam, tiada sebuah jawaban pun dari seseorang yang
berada dalam kamar it"Kita buka saja,
mungkin Mas zahiy nya sedang tidur,
ujar Fauzi. Roland dan Rahmat menyetujui
usul Fauzi. "Dikunci, Mas," ujar Fauzi seraya memandang ke arah Roland. Roland mengalihkan pandangan ke arah Rahmat. Rahmat memastikan seraya mencoba membuka pintu. Ternyata benar pintu terkunci. "Zahiy...Zahiy..., apa kamu di dalam?" Rahmat memanggil Zahiy. Ada rasa khawatir dalam hatinya. "Akhi
Zahiy Roland memanggil Zahiy. cukup lama
Roland, Antoni, Arif,
Fauzi, Rafi, dan Rahmat memanggil Zahiy sampai akhirnya Fauzi
memberi saran untuk didobrak. Roland mundur
satu langkah seraya mengambil ancang-ancang,
lalu sekuat tenaga mengarahkan bahunya ke pintu kayu kamar Zahiy. Brak...!
pintu terbuka lebar dan pandangan kelima pemuda itu hanya
menatap kamar tanpa penghuni. Kelimanya
terdiam, seraya bertanya dalam hati mana
sosok Zahiy menghilang? Rafi menoleh ke
kanan kiri dan matanya menemukan beberapa amplop putih tergeletak di meja. Ada selembar foto zahiy yang tampak tampan mengenakan
kopiah putih. perlahan Rafi membaca nama-nama
yang tertera di empat amplop itu. "Ustadz Roland, Akhi Rafi,
Akhi Rahmat... dan bidadari yang
mengusik malamku... Salju!" "Mas
Zahiy sedang sakit jadi tidak mungkin Mas zahiy bisa pergijauh. Bagaimana kalau kita mencarinya?" usul Fauzi, namun belum sempat kelimanya beranjak untuk mencari
zahiy, sesosok gadis dan seorang lelaki
separuh baya tengah berdiri mematung di depan pintu. "Pak Arie?" Rafi terkejut. "Iya, di mana Zahiy Ada yang mau Bapak bicarakan," kata Pak Arie. Rafi diam.
Ia terpaku memandangi Salju. Lho, ini kan gadis yang ada di"Maaf, Bapak,
Mas Zahiy sedang pergi," Roland
memecah kecanggungan. "Ke mana?"
tanya Salju tiba-tiba. Roland ingin
menjawab, tapi lidahnya kelu. Selain itu,
ia bingung dengan apa yang terjadi.
Ia tak kenal kedua orang yang tiba-tiba saja datang ke kamar zahiy dan
mencari pemuda itu.
"Mas zahiy pergi ke mana? tanya Pak Arie mengulang pertanyaan Salju. "Itulah, Pak.
Kami juga tidak tahu, lirih Rafi. Perpisahan.
Salju teringat mimpinya. Lalu... ia merasa tubuhnya ringan.... "Salju...!" Sontak lelaki separuh baya itu berteriak melihat
gadis anggun itu kembali tak sadarkan diri untuk kesekian kalinya.
|
195 - 213
|
5
|
Resolusi
|
Gadis berwajah anggun itu masih terlelap. Matanya ter. pejam,
namun ia tidak dalam keadaan tidur sesun guhnya. Ia memang tidak pernah mampu untuk membuka matanya. Membuka mata pun ia tidak akan mampu mena indah
pelangi, menatap debur ombak, serta menatap impian- nya untuk bisa merasakan indahnya salju di negeri
sakura, impian yang selalu ia ceritakan
kepada dua sahabat yang kini sudah jauh dari pandangan matanya, Vano dan El Dalam mata yang terlelap, Salju hanya bisa kembali menarik napas panjang, mencoba menenangkan jiwanya yang bergemuruh
beriring raganya yang justru semakin melemah.
Sebenarnya ia bahagia karena tadi ia mendapat kabar dari Nurlita bahwa
ada orang yang akan mendonorkan mata un-
tuknya, tapi entah apa yang terjadi, ada ketakutan seiring kebahagiaannya. Salju kembali mendesah, lalu merapikan selimut yang hanya menyelimuti
sampai perutnya, dan kini ia mengarah kannya
hingga menutupi semuanya, tak terkecuali
wajah yang tiba-tiba menguraikan air mata dengan sendirinya, menyimpan duka terdalam dalam jiwanya. Hingga ia pun tak menyadari seseorang yang masuk, mengulas senyum untuknya. "Salju. sudah tidur ya? ujar Nurlita. "Belum, Bu,"
balas Salju masih tetap menyembunyikan kepalanya dalam selimut, menyembunyikan tetes bening yang kembali terjatuh
untuk yang kesekian kalinya. "Kenapa?
Apa kamu masih sakit? Salju hening, raganya memang sudah agak membaik dibanding
kemarin, namun ketakutan dalam jiwa itu
membuat raga itu enggan bangkit, membuat
raga itu memilih terbaring hingga terlelap karena saat terlelaplah jiwa itu bisa
tenang, tanpa beban rindu dan ketakutan
yang hanya menyisakan rasa sakit. "Tidak kok, Bu,"
balas Salju akhirnya menyibak selimut,
mencoba duduk, menampakkan wajah
pucatnya, namun aura dari balik wajah pucat
itu tetap terlihat memesona seperti biasanya. "Lho kenapa Salju menangis? Bukannya Salju seharusnya bahagia besok kita
kan persiapan untuk operasi Salju? Dan
sebentar lagi salju bisa merasakan betapa dunia ini memang indah!" Nurlita mencoba menghibur Salju. Salju hanya tersenyum simpul, namun bekas air mata serta raut wajahnya masih
jelas ada duka yang terpaut di dalam jiwanya.
"Salju... ini
ada titipan dari pemuda bernama Zahiy.
Apa mungkin dia Zahiy yang kamu ceritakan? Si pengumandang adzan?" Zahiy Salju tersentak dalam kerinduan, membuatnya jiwanya menahan perih yang sempat
menghilang, namun kembali dan kembali, saat nama itu disebut.Tapi,ia bahagia mendapatkan
sebuah titipan dari pemuda yang sangat ia rindu. Ia bahagia dan tidak sabar untuk mengetahui
apa titipan itu. "Titipan apa, Bu?" tanya salju menyembunyikan kere. sahan dalam hatinya. "Amplop. "Surat?"
"Sepertinya iya," balas Nurlita.
"Ibu buka ya. Iya surat!" Seperti biasanya, Salju pun meminta Nurlita untuk mem- bacakan surat yang tertuju untuknya dari pemuda
yang rindu, Zahiy.
Salju diam. Nurlita
terpaku Sebuah resah beriring kerin uan kembali hadir dalam benak Salju. Kerinduan untuk sosok yang juga merindunya, sosok yang juga telah menyatakan cinta untuknya. Hanya saja,
bahagia karena rindu yang terbalas lenyap sudah saat Salju menyadari sosok
itu sudah menghilang, entah kapan ia akan
bisa menemukan sosokitu. Sosok yang rela
menunggunya walau sosok itu tidak tahu apakah Salju mencintainya. Tes!
Air mata akhirnya meleleh pelan,
mengalir dari pipi putih salju.
|
240 - 245
|
6
|
Koda
|
Catatan terakhir untuk sang bidadari... Keyla Rahma. Atau gadis yang kukenal dengan nama sederhana
yang begitu indah Salju Allah... terima
kasih Engkau masih memberi kekuatan bagi tangan lemah ini untuk menuliskan keresahan
dalam jiwa. Entah apa yang harus hamba
lakukan malam ini Jiwa hamba begitu rindu dan hamba begitu takut tidak lagi mampu
menatap sosok yang hamba rindu... Namun
jika hal itu yang akan terjadi hamba rela...
hamba berserah kepada-Mu... karena
Engkaulah Yang Maha Mengetahui atas segala Sesuatu. Salju...
jujur aku tidak pernah berharap kamu akan membaca catatan ini. Namun jika memang kamu membacanya, aku harap,
kamu mau menerima permintaan maafku yang tidak bisa menemanimu untuk melihat
betapa indahnya Negeri Sakura. Permintaan
maafku yang tidak bisa menepis dinginmu kala engkau merasakan butiran putih berjatuhan
dari langit... karena aku tidak akan bisa... dan tiada akan mampu.
Sungguh... aku yang
mencintaimu. ingin merasakan semua keindahan
itu bersamamu... bersamamu yang entah aku
sendiri tada pernah tahu, apakah kamu juga
mencintaiku sebagai mana aku mencintaimu?
Apa kamu juga merinduku seperti aku merindukanmu? Apa kamu juga mengasihiku sebagaimana aku mengasihimu? Namun aku ingin engkau mengetahui... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu. Aku
ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti
isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya Salju... jika kamu telah membaca catatan ini... aku berharap... kamu akan menyadari semua yang telah terjadi
selama ini. Aku yang mencintaimu... dan aku tak berharap apa pun selain satu hal, izinkan aku melihat apa yang engkau lihat, izinkan aku menatap semua hal yang engkau tatap, izinkan aku menjadi malaikat untuk kehidupanmu, dan izinkan aku menjadi setitik cahaya bagi
kisah indahmu. Salju bagaimana keadaanmu
Apa sekarang kamu sudah bisa melihat wajah Vano? Bibi Nurlita? Pak Arie...
lalu apakah kamu sudah melihat indah pelangi... debur ombak di desa Sumber Asri...
Serta melihat salju yang sebenarnya, dan juga bunga sakura di negeri Jepang? Kamu pasti bahagia kan? Kamu harus tersenyum. Karena aku merindukan senyumanmu yang indah. Jangan lagi bersedih ya Kuharap, salju tetap akan menjadi sosok salju di musim
terindah dengan senyumannya dan sekali lagi maafkan, Zahiy,
ya karena Zahiy tidak bisa menemani Salju untuk melihat semesta. Zahiy sayang Salju. Dari sosok yang melihat bersamamu, serta selalu mencintaimu... Zahiy Karena aku mencintaimu... izinkan aku melihat apa yang engkau lihat, menatap apa yang engkau ketahui, memandang setiap yang hadir dalam hidupmu... karena aku telah ditakdirkan menjadi bagian
hidupmu. salju hening sejenak, mengusap air matanya, tersenyum seraya memandang langit yang membiru
dengan indah, mencoba menghapus dukanya, karena kini rindu yang i nanti telah ia temukan
jawabannya. "Mas, terima kasih. Aku akan menunggumu hingga aku akan terlelap
nanti," desah salju seraya kembali
menatap lekat selembar foto. Sosok yang ia rindu ada di sana, menatapnya lekat,
bahagia.
"Aku Melihatmu!
|
252 - 255
|
Unsur-Unsur Teks Novel "Aku Melihatmu" (Di Sebelah)